Cerpen

Jumat, 03 Januari 2014

STASIUN TERAKHIR
Pagi itu aku terkejut ketika terbangun dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 05.30 WIB, tersentak teringat janjiku pada salah satu teman dikelasku yang bernama Selly. Aku dan dia berjanji untuk mengikuti sebuah seminar di salah satu universitas negeri di Depok. Kami berencana untuk berangkat ke lokasi seminar bersama-sama dengan menggunakan kereta api dari Stasiun Bekasi. Menit demi menit pun berlalu, aku bergegas untuk mandi dan siap-siap untuk berangkat menuju Stasiun Bekasi. Pagi itu, aku tidak sempat sarapan karena aku terburu-buru sekali, tetapi tak lupa sesekali aku mengirim pesan singkat kepada Selly untuk menanyakan dia dimana dan memberitahukan bahwa aku akan terlambat tiba di stasiun. Namun, tak ada balasan apapun dari Selly. Aku pun berangkat menuju stasiun menggunakan motor, seorang diri.
Waktu menunjukkan pukul 06.45, aku tiba di stasiun. Dengan perasaan gelisah aku mengecek ponselku, namun belum ada balasan juga dari Selly. Sambil menunggu kabar dari Selly aku memutuskan untuk mengantri dan membeli tiket kereta api menuju Pondok China. Beberapa menit kemudian ponselku berbunyi dan ada pesan singkat dari Selly.
“Fia, maaf Selly kesiangan dan ini baru bangun”, pesan dari Selly.
“Waduuh.. kamu baru bangun?? yaudah aku tunggu ya di stasiun”, aku membalas pesan Selly dengan rasa terkejut sekali.
Aku duduk dan mendengarkan musik ketika menunggu Selly. Sesekali aku juga memperhatikan para penumpang lain yang berebut untuk masuk gerbong kereta padahal terlihat sekali di dalamnya para penumpang berdesakan. Sekilas aku melihat teman kampusku, Tian dan teman-temannya masuk gerbong, namun aku tak menghiraukannya.
Pukul 07.00 aku mencoba untuk mengirim pesan singkat kepada Selly untuk menanyakan keberadaannya, tetapi tak ada balasan. Pukul 07.05 aku pun melakukan hal yang sama, dan tak ada balasan juga. Sampai pukul 07.10 tak juga ada kabar dari Selly, bahkan aku mencoba menelponnya, tetapi tak juga ada jawaban. “Mungkin Selly sedang dalam perjalanan , sehingga dia tidak bisa membalas pesanku ataupun menjawab telponku”, ucapku dalam hati.
Salah satu kereta pun sudah berangkat, aku semakin panik karena Selly belum juga tiba di stasiun. Pukul 07.20 ponselku berbunyi dan ada pesan singkat dari Selly, “Fia, sabar yaaa.. ini Selly bentar lagi sampai di stasiun”. Aku pun sedikit tenang karena sudah mendapat kabar dari Selly. Akhirnya aku memutuskan untuk naik ke gerbong kereta selanjutnya, dan mengabarkan Selly bahwa dia aku tunggu di dalam gerbong kereta khusus wanita.
Sampai pukul 07.30 Selly tak kunjung datang, sedangkan kereta sebentar lagi akan berangkat. Aku panik, mencoba menelpon selly tetapi tak ada jawaban. Aku fikir, Selly akan tiba disini sebelum kereta yang aku tumpangi berangkat. Namun, perkiraanku salah besar. Kereta berangkat dan Selly belum tiba. Beberapa menit kereta berangkat, Selly menelpon aku dan menanyakan keberadaan aku.
“Fia dimana?”, tanya Selly.
“Selly, maaf kereta yang aku tumpangi sudah berangkat”, jawabku.
“Iyaa Fia tidak apa-apa, Selly baru sampai, jadi Selly naik kereta selanjutnya saja. Nanti kita bertemu di Stasiun Manggarai ya” ucap Selly.
“Oke deh Selly”, jawabku.
Tak terasa kereta yang aku tumpangi tiba di Stasiun Manggarai, stasiun ini merupakan tempat transit bagi para penumpang kereta yang menuju Bogor. Aku turun dari kereta, dan jalan ke jalur 5, yaitu jalur dimana kereta yg akan aku tumpangi selanjutnya berada. Aku pun tak lupa untuk segera mengabari Selly bahwa aku telah sampai di Stasiun Manggarai. Ternyata Selly masih berada di dalam kereta.
Dari kejauhan aku melihat Tian dan teman-temannya yang sedang menunggu kereta juga untuk menuju Stasiun Universitas Indonesia.
”Tian, kok masih disini? Bukannya tadi naik kereta yang lebih dulu ya dari gue”, tanya aku.
“Iya, tadinya gue nungguin temen karena kita terpisah gerbong. Tapi ternyata dia sudah naik kereta duluan. Ngeselin banget ya”, jawab Tian.
“Haha..”, aku tertawa lepas.
“Kok lo sendirian Fia?”, Tanya Tian.
“Iya, ini gue lagi nunggu Selly, kita beda kereta. Tapi katanya bentar lagi juga sampai”, kataku.
Tak lama kemudian, kereta pun datang. Tian dan teman-teman naik kereta tersebut dan  sempat mereka mengajak aku untuk naik kereta bersama, namun aku menolaknya. Beberapa menit kemudian, sempat aku melihat kereta datang dari arah Bekasi tiba dan kereta yang menuju Bogor juga datang. Aku pun berusaha menghubungi Selly, namun lagi-lagi dia tak bisa dhubungi. Namun, secara bersamaan Selly juga menelpon aku dan mengatakan bahwa dia sudah di dalam kereta transit yang menuju Bogor dan menyuruh aku untuk cepat-cepat masuk ke dalam kereta. Sungguh disayangkan, aku terlambat, pintu kereta sudah ditutup dan kereta berangkat. Aku pun harus menunggu kereta selanjutnya dengan sedikit rasa kecewa.
“Fia, Selly udah di kereta. Kita ketemuan di Stasiun Universitas Indonesia aja ya”, kata Selly yang diketik melalui pesan singkat untukku.
“Iya Sel, jangan kemana-mana ya, pokoknya harus tunggu aku disana” jawab aku.
Kereta selanjutnya yang menuju Bogor pun datang, aku naik kereta tersebut. Di dalam kereta lumayan sepi, tidak sesesak saat naik kereta menuju Manggarai. Untuk menghilangkan kejenuhanku karena di kereta sendirian, tak ada teman ngobrol, aku pun memainkan ponselku.
“Selly jangan lupa ya tunggu aku di Stasiun Universitas Indonesia”, aku mengirim pesan singkat pada Selly.
“Oke sip sip”, balas Selly.
Selang beberapa lama aku pun tiba di Stasiun Universitas Indonesia. Aku lihat keluar jendela dari dalam kereta, dan disana terlihat Selly sedang duduk di kursi menanti aku. Aku pun keluar kereta, menghampiri Selly. Aku dan Selly saling tatap dan langsung tertawa terbahak-bahak. Kami berdua berkata secara serempak, “akhirnya kita bertemu juga”.
Selanjutnya, kami keluar stasiun dan berjalan menuju halte. Di halte, kami bertemu dengan Tian dan teman-teman, ternyata mereka akan menghadiri seminar yang sama. Akhirnya, kami naik bis bersama-sama menuju tempat berlangsungnya seminar.




0 komentar:

Posting Komentar